BILIK KOREA
  • Beranda
  • Tentang
    • Pengantar
    • Kuratorial
  • Pameran
    • Galeri
    • Seniman
  • Video
  • Forum
  • ID

Seni, Gerakan Perempuan, dan Aktivisme: Cerita Dari Asia Tenggara dan Korea Selatan

Rayina Parayudha
4 Oktober 2021

21 Agustus 2021

Diskusi ketiga berfokus pada bagaimana perkembangan Gerakan perempuan dalam konteks seni dan konteks politik secara umum di kalangan masyarakat Asia, untuk memberikan pemahaman dan saling berbagi pengalaman tentang persamaan, perbedaan dan tantangan Gerakan perempuan dalam konteks yang berbeda-beda. Dengan menghadirkan seniman/aktivis dan aktivis pergerakan, diskusi ini melihat kembali dan merefleksikan secara kritis keterputusan sejarah, pergeseran gerakan dan situasi umum, serta memproyeksikan kolaborasi dan penggunaan teknologi di masa mendatang. Pembicara dalam sesi ini adalah Womanifesto, kelompok seniman perempuan di Thailand yang mengeksplorasi lokalitas dan praktik-praktik seni alternatif sebagai upaya membicarakan sejarah dan pengetahuan perempuan, serta Kwon Kim Hyun -Young, seorang aktivis gerakan perempuan yang banyak menaruh perhatian pada kompleksitas dunia virtual dengan maskulinitas, patriarkhi dan budaya kekerasan psikologis masyarakat Korea Selatan.

 

Womanifesto

Pada awalnya Womanifesto diorganisir oleh para seniman perempuan di Thailand. Salah satu pendiri Womanifesto adalah Nitaya. Lulus dari universitas seni di awal 90-an, Nitaya bertemu dengan beberapa seniman dan berdiskusi untuk melakukan pameran yang bertajuk Tradisexion pada tahun 1995. Istilah tradisexion berasal dari tradition (tradisi) dan sexuality (seksualitas). Acara tersebut merupakan simbol dari para seniman perempuan yang saling membantu dalam isu perempuan melawan diskriminasi di Thailand. Karya yang dipamerkan dalam pameran Tradisexion berupa seni instalasi, pertunjukan, esai, dan buku. Ini kali pertama mereka menggelar pameran dan tanpa dukungan dana.

Setelah pameran tersebut, Nitaya dan beberapa seniman perempuan Thailand bertemu dengan para seniman internasional termasuk Varsha Nair. Pada tahun 1995, mereka membuat gerakan seni perempuan yang diberi nama Womanifesto. Womanifesto didirikan sebagai acara internasional dua tahunan (Biennale). Womanifesto adalah satu-satunya gerakan internasional di Asia Tenggara, yang didirikan oleh seniman wanita pada saat itu. Jejaring koneksi antar seniman perempuan internasional tumbuh secara organik lewat berbagai pertemuan dan acara. Mereka menulis, menggambar, berbicara, menyebarluaskan dan fokus pada apa yang mereka lakukan tanpa menunggu untuk ‘dikuratori’ atau ‘diminta’. Pada tahun 1999, mereka menggunakan cara analog untuk menyebarkan informasi lewat mesin faks, kemudian menggunakan email. Proyek mereka berubah dengan format yang berbeda, di mana mereka bisa memasak, makan, hidup, dan merenung bersama.

Pada tahun 2001 mereka mengadakan lokakarya sepuluh hari di komunitas pertanian di Thailand Timur Laut di mana 13 seniman, 6 relawan, dan artisan bertemu dan saling berbagi. Kegiatan ini berupa workshop oleh seniman dengan peserta seniman lainnya dan siswa sekolah atau universitas. Pada tahun 2008 mereka membuat program residensi di lahan yang sama, yang melibatkan lintas generasi perempuan selama 6 minggu. Puncak kegiatan tersebut dilakukan di sebuah ladang, dengan melibatkan masyarakat setempat.

Womanifesto mulai mengarsipkan karya-karya dan kegiatannya pada tahun 2018. Arsip tersebut didigitalisasi oleh Asia Art Archive untuk koleksi penelitian mereka. Womanifesto diundang untuk hadir pada 2 simposium pada tahun 2019 yaitu Chulalongkorn University di Bangkok, dan The Cross Art Projects di Sydney. Ia juga menjadi bagian dari materi arsip yang dipamerkan di Asia Art Archive tahun 2020 di Hongkong yang bertajuk ‘Crafting Communities’. Pameran tersebut dikuratori oleh John Tain, kepala bidang penelitian Asia Art Archive.

 

Gerakan Feminisme Berbasis Online di Korea Selatan

Di pertengahan dan akhir tahun 1990an, feminisme berbasis online mulai tumbuh seiring dengan lebih mudahnya akses terhadap komputer pribadi dan koneksi internet yang cepat. Terbentuk komunitas feminis, seperti Asosiasi Perempuan, Surga Feminist dan Ms dari tiga perusahaan komputer pribadi; Cheonlian, Naunuri, dan Heitel. Di akhir tahun 1990an, webzine menjadi populer dan di tahun 1998, webzine feminist Sel Putri Bulan (http://dalara.jinbo.net) didirikan.

Pada tahun 2000an gerakan feminisme berbasis online mulai menyebar secara luas. Gerakan ini dipandang sebagai ruang alternatif online bagi perempuan yang ingin menciptakan gerakan budaya melalui wacana dan aktivitas online yang produktif. Ini juga dimaksudkan untuk menciptakan lingkungan yang aman sebagai respon terhadap budaya komunitas Internet yang semakin berpusat pada laki-laki. Namun, kesulitan keuangan, perubahan lanskap media, dan sikap apatis masyarakat terhadap feminisme melemahkan kekuatan ruang alternatif tersebut. Akhirnya, pemerintah konservatif yang menjabat pada tahun 2008 menghapus semua kebijakan tentang regulasi Internet, yang menyebabkan meningkatnya kebencian terhadap wanita di Internet.

Pada tanggal 20 Januari 2015, istilah ‘feminis’ dan ‘kebencian’ secara bersamaan meraih peringkat 1 di mesin pencarian real-time, Naver & Daum. Hal itu terjadi tak lama setelah ada laporan bahwa seseorang bernama Kim, yang saat itu berusia 17 tahun, menjadi sukarelawan untuk ISIS di Suriah, karena dia membenci feminis. Ini adalah pertama kalinya ‘feminis’ masuk ke dalam peringkat pencarian real-time. Namun hal tersebut justru memunculkan reaksi para wanita untuk memberanikan diri dan menyatakan “saya seorang feminis”. Hal tersebut adalah awal mula gerakan deklarasi feminis di Twitter.

Gerakan feminis tidak dapat dipisahkan dari iklim politik. Korea sendiri adalah negara yang didasari oleh pemahaman neoliberalisme. Pekerjaan menjadi tidak stabil, pemutusan hubungan kerja lebih sering terjadi, harga perumahan terus naik yang disebabkan oleh dana perwalian. Tidak hanya itu, bahkan pendidikan tinggi, moda mobilitas sosial yang paling stabil, telah kehilangan keadilannya. Gerakan masyarakat, secara historis selalu berakhir dengan normalisasi kebencian terhadap minoritas, dukungan atas diskriminasi, dan menyalahkan segala kerusuhan pada faktor-faktor eksternal.

Gerakan feminis berbasis online saat ini telah banyak berkontribusi pada gelombang popularisasi feminisme dan telah meningkatkan simpati publik terhadap isu-isu perempuan. Namun, pengucilan identitas interseksional lainnya, khususnya minoritas, dalam prosesnya telah menimbulkan masalah sosial seperti ejekan dan intimidasi terhadap perempuan transgender.

© 2021 Yayasan Biennale Yogyakarta ∙
Powered by ScriptMedia
  • Kontak
  • Pers
  • F.A.Q
ID
  • No translations available for this page